Sunday, May 12, 2019

Judul Judulan


Menyimpan kenangan itu beban, tapi berbagi kenangan adalah kebahagiaan

Sudah dua hari ini aku beres-beres rumah. Merapihkan benda-benda dan menata ulang beberapa letaknya. Sebagian besar benda yang ditata ternyata banyak yang berasal dari masa lalu...aikh...ada foto masa-masa SMA dan SMA...ada surat-surat juga...anjrit...akhirnya segala kenangan yang berkaitan dengan benda-benda yang lainnya datang silih bergantian. Beres-beres jadi tak selesai karena malah sibuk mengingat dan menikmati peristiwa dalam kepala dan ingatan.

Tuesday, May 7, 2019

Memperpanjang Usia



...kemudian saya punya dugaan, ketika pembaca yang budiman datang kehalaman ini sebagian berbekal pikiran, di sini akan ada semacam tips atau formula untuk memperpanjang usia...

Friday, May 3, 2019

B A N G U N P A G I A D A L A H K E W A J A R A N H I D U P



sumber gambar : media.istockphoto.com
Gambar hanya pemanis


Membangun sebuah kehidupan bukanlah perkara yang mudah, terlebih menjaganya agar tetap hidup, seimbang dan wajar. Setiap segala sesuatu, untuk menacapai kewajaran, ia harus utuh. Seperti halnya dalam kehidupan manusia yang terdiri dari ruh dan badan yang harus berjalan berbarengan. Artinya, antara ide dan perbuatan berjalan saling menopang dan berbarengan. Antara keinginan dan usaha untuk mewujudkannya berjalan saling berbarengan dan saling menopang. Sehingga lepaslah kita dari kemalasan yang oleh Rendra disebut sebagai daya mati, dan usaha menyatukan antara ruh dan badan adalah daya hidup.

Salah satu usaha untuk melatih daya hidup kita, manusia, adalah memiliki disiplin dalam hidup  yang bisa kita usahakan melalui melatih diri menjalankan rutin pribadi, dan rutinitas harian. Sebab sejatinya, setiap manusia harus memiliki rutinitas yang terjaga dan tetap berlangsung. Menetapkan sebuah rutinitas dalam hidup bukan berarti tidak ada kebebasan berekspresi dan menanggapi keadaan secara genuin, seketika, dan apa adanya. Rutinitas adalah untuk menjaga keseimbangan dalam hidup dan benteng dari kemalasan yang selalu mendera.

Untuk melatihnya, hal tersederhana dan sekaligus terberat yang bisa dilakukan adalah bangun pagi sebelum matahari terbit. Mempersiapkan diri menyabut matahari terbit. Ketika matahari terbit, kita sudah siap beredar dan menjalan rutin serta kegiatan lainnya. Ini nampak sederhana dan gampang, namun pada prakteknya kita akan menghadapi kemalasan yang lebih dahsayat, permakluman pada diri sendiri dengan segerombolan alasan yang nampak logis. Sangatlah berutung, orang-orang yang taat beragama yang dalam agamanya memiliki rutin setiap pagi, khususnya orang islam yang punya ibadah sholat subuh.

Bangun pagi, selain bisa kita jadikan latihan untuk diri sendiri sebagai rutinitas dan benteng dari kemalasan, juga merupakan usaha mewajarkan diri dan mensejajarkan diri dengan kewajaran alam semesta dan hukum alam. Seperti rutinitas yang ada di alam semesta. Ada matahari yang selalu terbit setiap pagi dan terbenam di senja hari, adalah keseimbangan dalam perputaran tata surya dan kehidupan semesta. Begitu juga dalam kehidupan kita sehari-hari.

2016

Thursday, May 2, 2019

Menolak Tidak Produktif


Menjadi tidak produktif itu adalah suatu kesia-siaan hidup.
“Live as if you were to die tomorrow. Learn as if you were to live forever.” ― Mahatma Gandhi



Beberapa tulisan yang sudah hadir dan akan hadir adalah re-post saja dari web sebelumnya. Tahun 2016, saya punya web pribadi tempat saya menulis banyak hal, tapi kemudian webnya bangkrut dan belum bisa bangkit lagi. Agar tulisannya tetap bisa dibaca, maka, saya re-post lagi di sini. Upaya ini dilakukan agar saya produktif kembali. khususnya melatih diri dalam menulis.

Bagi saya ini adalah salah satu cara menolak untuk tidak produktif. Tercatat, sepanjang 2017-2018, saya tidak menulis. Tak pula menghasilkan karya yang lainnya. saya tidak tahu kenapa, barangkali ini lah yang disebut cacat, atau dalam bentuk jamaknya cacatan -sekumpulan cacat. weeee

Sebagai pemalas, keadaan semacam ini wajar-wajar saja toh....malas berkarya, malas bekerja, atau jangan-jangan malas hidup. Sampai-sampai, setiap hari, saya hanya melakukan kegilaan -melakukan hal yang sama secara terus-menerus- kata Einstein. Sebab kalau tidak ada "kegilaan" mana mungkin seseorang akan menyapu lantai setiap hari, mengepel setiap hari, mandi setiap hari, makan setiap hari, merokok setiap hari, minum setiap hari, bahkan sampai ada yang diatur jadwalnya beserta urutan waktunya....memangnya tidak bosan???

Tapi ya sudah, itulah kegilaan masing-masing dengan segala macam ukuran dan kadarnya. Sebab, juga barangkali ada yang menyebut bahwa rutinitas adalah usaha mendisiplinkan diri agar tetap waras dan tidak pikun. Nah loh, mana yang betul??? yang betul adalah, segera tinggalkan tulisan ini, kembali pada rutinitas masing-masing. 

Dan bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional ini, 2 Mei 2019, saya ingin mengajak saudara-saudara untuk,

1. Sesekali, belajarlah untuk tidak malas dari pemalas
2. Sesekali, belajar waras dari orang gila
3. Sesekali, belajar disiplin dari orang yang tidak disiplin
4. Jangan belajar sukses dari orang yang sudah sukses, belajarlah dari yang masih berjuang dan yang gagal.

sudah...mandi sana...atau ngopi paling tidak... 

JAMURESI #5


JAMURESI #5
Batu Tulis Citapen; Situs Multizaman

Batu Tulis Citapen

Batu Tulis Citapen
Kira-kira tahun 1994, saya mendengar dan mulai mengetahui bahwa di desa saya, Sukajaya, ada batu tulis. Batu tulis ini letaknya di dusun Citapen Pasir. Untuk seorang anak SD, jarak antara Jamuresi dan Batu Tulis Citapen lumayan cukup jauh, ditambah tahun-tahun itu kendaraan anak SD yang paling tren hanya sepeda. Akibat kurang nakal, kurang nekat, dan kurang rasa ingin tahu, sampai saya lulus SD saya gagal ke Batu Tulis Citapen. Juga karena terlalu percaya pada mitos-mitos yang ada di masyarakat Sukajaya.

Wednesday, May 1, 2019

JAMURESI #4


JAMURESI #4
Gembyung dalam kenangan

Gembyung; Suber Foto: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id


Kesenian Gembyung adalah seni musik yang dikembangkan dari seni musik Terbang yang sudah membumi di pesantren-pesantren di sekitar Cirebon. Gembyung dimainkan dalam upaca-upacara keagamaan dan pesta rakyat lainnya. Di Jamuresi, Gembyung biasanya dimainkan untuk mengiri marhabaan keliling dan sukuran-sukuran lain di rumah-rumah warga.

Gembyung di Jamuresi berwaditrakan Terbang, Kendang, Goong dan Kecrek. Pemainnya kurang lebih sembilan orang dengan satu orang solis atau vokalis. Lagu-lagu yang dimainkan biasannya shalawatan dari kitab al-Barjanji dengan nada khas Sunda, atau sesekali mereka menyayikan lagu sunda yang isinya berupa amanat atau hikmah keislaman.

Sebagai seni musik bernuansa Islami, Gembyung diduga masuk ke Jamuresi berbarengan dengan membuminya Islam di Jamuresi. Islam masuk dan diajarkan di Jamuresi oleh salah seorang yang diduga murid Sunan Kalijaga dari Cirebon. Sehingga sedikit wajar jika ia mebawa serta tradisi yang sempat ia lakukan di Cirebon dibawa serta ke Jamuresi.

Namun sayang, perubahan arus kebudayaan di Jamuresi terlampau deras dan mudah sekali berubah. Sejak listrik pemerintah masuk ke Jamuresi, Gembyung hilang begitu saja. Kalau pun ada usaha menghidupkan kembali Gembyung Jamuresi, sepertinya akan sulit. Selain para pemainnya sudah banyak yang menjadi nisan, kesenian ini hilang begitu saja seperti tertiup angin dan belum sempat diturunkan pada generasi berikutnya. Begitu pula dengan marhabaan keliling, sudah mulai pudar pula.

Banyaknya kerarifan lokal yang hilang dari Jamuresi menjadi salah satu bukti bahwa pemerintah Ciamis kurang perhatian terhadap kesenian dan kebudayaannya sendiri. Mungkin tidak hanya di Jamuresi yang terletak jauh dari pusat pemerintahan, tapi juga terjadi di tempat lain di wilayah Ciamis. Bukan hanya dulu, sekarang pun pemerintah Ciamis masih kurang perhatian terhadap kebudayaan lokal dan segala macam peninggalannya. Bukti lain adalah pembangunan gedung kesenian yang tidak sesuai kebutuhan dan terbengkalainya beberapa situs cagar budaya seperti ‘batu tulis multizaman’ di Citapen desa Sukajaya.

Tentu saja, besar harapan saya, dari yang tidak saya ketahui, masih ada keinginan untuk melakukan perubahan untuk Ciamis yang lebih baik setelah ditinggal oleh Pangandaran.


2016

Tuesday, April 30, 2019

MENJAUH


M E N J A U H

Apa yang ada dalam kepalamu ketika kenyataan dan cita-cita semakin menjauh dan berjauhan?
juga Apa yang kamu lakukan mendapati diri terkurung dalam kenyataan tetapi tak berdaya menjawab persoalan?

Catatan ini adalah saksi atas cacatan diri yang semakin hari semakin menampakkan kemenangannya. Sementara aku, hanya berjuang untuk menunda kekalahan saja sudah tak mampu.

Hari Kemarin, Senin, hari ini Selasa 30 april 2019, pukul 01.46 waktu laptop, aku mendapati diriku dalam keadaan tidak nyaman. Tidak nyaman atas peristiwa yang menurutku juga tak berdampak apa-apa pada hidupku secara langsung. Tapi aku tahu, kejadian dan pertistiwa hari Senin kemarin, selain merayakan Hari Puisi, juga penutupan haul Danarto di UIN Jakarta, akan berdampak bagiku dikemudian hari hari. Lengkap sudah, rangkaian acara selama satu minggu di UIN jakarta tak satupun yang aku hadiri, padahal jelas, setengah dari hidupku berkecipung dan bersinggungan dengan dunia semacam itu, puisi, sastra, apresiasi sastra, kesenian...dan hari ini, menjadi bukti, jiwaku semakin menjauh dari itu semua, sementara badanku tertinggal. eh, terbalik ya....tak. Malah lebih dekatnya, keduanya.

Sungguh, ini semacam kemalangan yang hadir menimpa berkali-kali. Terseret dalam kewajaran hidup, namun terlepas dari cita-cita dan tercabut dari akar adalah menyakitkan. Betapa tidak, sementara ragaku "seolah-olah" berperan menopang cita-cita, namun tanpa daya dan upaya aktualisasi diri. Aku terkurung imajinasi dan malah asik sendiri, sementara kenyataan tak pernah aku tengok dan aku rawat.

Catatan ini, menjadi saksi atas cacatan diri yang semakin hari semakin menang. Sementara aku, menunda kekalahan saja tak mampu.

Di kemudian hari, sementara nanti kita berada di masa depan yang entah, tulisan ini akan mejadi jawaban, apakah aku kembali pada cita-cita saat ini, atau cita-cita sudah aku ganti dengan yang lain. Tidak tahu.

Selamat menikmati kekalahan melawan waktu dan kewajaran.


JAMURESI #3


JAMURESI #3
Mencari Identitas



Hakikatnya, setiap tempat memiliki kebudayaan tersendiri. Setiap masyarakat pasti memiliki tatanan hidup bermasyarakat sesuai dengan kebiasaan dan kondisi masing-masing. Begitu juga dengan Jamuresi dan sekitarnya yang memiliki tradisi tersendiri dan menyesuaikan dengan zamannya. Menurut sebagian para pakar sosiologi dan antropologi, kebudayaan sebuah masyarkat yang paling benar adalah yang mampu menyesuaikan dengan kebutuhan zamannya. Namun juga tidak kehilangan akar kebudayaan yang masih baik dan memiliki nilai kebaikan untuk kemanusiaan.

Jamuresi, yang dapat saya ingat, dua lima tahun yang lalu – sekitar tahun 1991an- masih tercatat sebagai tempat tertinggal atau desa tertinggal -Desa Sukajaya sampai sekarang masih sebagai desa IDT-. Namun, masyarakatnya mampu menjawab tantangan zamannya dengan kemampuannya masing-masing. Misalnya, untuk kebutuhan listrik, warga jamuresi memiliki sumber listrik sendiri yang dihasilkan dari turbin atau pembangkit listrik tenaga air dari sungai Cijolang. Tapi sangat disayangkan, pada tahun 1996, listrik mandiri milik warga Jamuresi diganti oleh listrik PLN milik pemerintah dan tidak difungsikan lagi. Di satu sisi, penggantian ini membawa kebaikan, namun di sisi yang lain, pemerintah merampas kreatifitas masyarakatnya yang mandiri.

Peristiwa pergantian listrik mandiri ke listrik pemerintah, akhirnya mendorong kebutuhan masyarakat Jamuresi dipaksa sama dengan kebutuhan masyarakat di kota yang memiliki pendapatan ekonomi berlipat-lipat dari masyarakat Jamuresi. Jamuresi dipaksa zaman untuk punya televisi, mengkonsumsi makanan instant produk periklanan yang di dapat dari televisi. Situasi ini akhirnya mendorong sisi kebutuhan yang dipaksa meningkat. Sebelumnya, panen padi satu kali satu tahun masih bisa menutupi kebutuhan sehari-hari warga Jamuresi. Sebab kebutuhan rempah-rempah masih bisa dilakukan dengan cara barter antar tetangga. Namun, setelah kebutuhan meningkat akibat harus bayar listrik negara, gaya hidup televisi, membuat masyarakat meningkatkan pendapatan dengan cara mengeksploitasi sumberdaya alam Jamuresi tetapi tidak dibekali dengan pengetahuan dan tehnik yang mumpuni. Sebagian masyarakat akhirnya menerima dengan paksa program-program percepatan pertanian dan lainnya demi memenuhi kebutuhan hidup namun tidak diberikan pandangan dampak yang akan terjadi dua puluh tahun yang akan datang -sekarang.

Demi memenuhi kebutuhan tersebut, masyarakat Jamuresi khususnya, umumnya Desa Sukajaya, meningkatkan percepatan pertanian dengan menggunakan zat-zat kimia yang dapat merusak tanah. Misalnya, dulu panen satu tahun sekali, bisa dipercepat menjadi tiga kali panen dalam setahun. Pengunaan bibit dan pupuk mempercepat dan memaksa tanah untuk memberikan kebaikan dengan instan namun lupa akan dampak kedepannya. Sekarang, sebagian sawah menjadi kering dan tak bisa ditanami padi bahkan dengan cara huma. Begitu pula yang memilki area pertanian di dataran yang lebih tinggi, banyak yang menjual pohon besar dan kemudia ditukar dengan tanaman sejenis kopi. Alhasil, ketika musim hujan turun, air hujan hanya sebatas lewat begitu saja dan tidak memberikan kebaikan yang banyak sebab tak ada lagi tanaman yang bisa menahan resapan hujan serta tanah sudah tak mampu lagi menampung air. 

Saya masih ingat, selokan kecil di depan rumah, dua puluh lima tahun yang lalu airnya banyak, dan selalu hidup. Saya bersama teman-teman bahkan sering membuat semacam bendungan dan membuat miniatur PLTA seperti yang di lakukan orang tua kami di sungai Cijolang. Tapi kini, semua tinggal kenangan dalam ingatan. Selokan kecil hanya parit kering penuh rumput dan berair ketika hujan saja.

Selain kreatifitas yang bernilai baik banyak yang terampas, hubungan sosial antar warga pun banyak terampas oleh kehadiran listrik PLN kala itu. Saat ini, kehidupan Jamuresi tak ubah seperti tatanan sosial masyarakat di perkotaan atau di pinggiran kota yang berlistrik. Semua orang, kita malam tiba, nyaris tak ada lagi yang berada di luar rumah, bukan karena takut gelap -dahulu lebih gelap- tapi karena semua orang kini sibuk dan terbius oleh acara televisi, terhanyut dalam acara televisi yang tidak banyak memberikan manfaat bagi warga Jamuresi secara langsung. Tak lagi seperti dulu, ketika menjelang magrib tiba, semua orang berbondong-bondong menuju masjid, mengajak anak-anaknya pergi ke masjid. Setelah magrib, anak-anak mengaji, para orang tua menunggu isya di beranda masjid sambil berbagi peristiwa dari sawah dan ladang masing-masing. Berbagi kisah dan pengalaman bagaimana menangani hama dan meningkatkan pendapatan. Terkadang, ketika purnama tiba, hampir semua warga di luar rumah menikmati purnama sebagai salah satu rasa syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan melalui alam raya. Lebih jauh dari itu semua, saya bersyukur masih sempat menikmati upacara sukuran alam sebelum panen dan setelah panen. Simbol syukur dan ucapan terimakasih kepada alam raya selain kepada Allah SWT atas berkah alam yang didapat.

Sayangnya, perubahan kebudayaan ini tidak disiapkan dengan matang oleh pemerintah kala itu. Masyarakat Jamuresi, dalam padangan saya, kala itu belum siap untuk menerima dampak kemajuan setelah listrik bekekuatan tinggi masuk Jamuresi. Sebab ketika listrik masuk Jamuresi tahun 1996, sebagian besar pendidikan warga Jamuresi adalah lulusan SD dengan pengetahuan sebatas bagaimana menanam dan bagaimana panen saja. Masyarakat tidak disiapkan secara mental untuk menanggapi kemajuan dan segala kemuningkan atas kemajuan yang bisa dicapai dengan adannya listrik yang lebih besar. Masyarakat tidak dibekali dengan keterampilan dan pengetahuan akan dampak positif dan negatifnya dari adanya listrik yang lebih besar tenaganya. Ada pun kebudayaan masyarakat men-tabukan menebang pohon besar dan mengkeramatkan hutan larangan dihajar habis-habisan dengan pendekatan ‘agama’ tapi dengan cara yang salah. Masyarakat hanya diberitahu bahwa ‘menuhankan’ pohon besar, hutan adalah perbuatan ‘syirik’ dalam Islam, tetapi tidak diberikan keterangan yang lainnya yang bermaanfaat agar tetap melestarikan hutan sebagai habitat penjaga siklus kehidupan Jamuresi yang notabene berada di lereng pegunungan.

Berubahnya tatanan sosial dan kebudayaan Jamuresi telah menjadikan Jamuresi tidak jauh beda dengan tempat yang lain yang ada di pinggiran kota dan kota. Padahal, banyak potensi yang bisa lebih besar dari yang sekarang sedang berlangsung. Selain dari sisi pertanian dan peternakan, Jamuresi punya nilai historis yang cukup mumpuni sebagai kekayaan kebudayaan bagi Ciamis khususnya. Sayangnya, pemerintah Ciamis saat itu tidak peka. Terbukti dengan terbengkalainya situs multizaman ‘batu tulis citapen’ -menurut hasil penelitian, situs Citapen berusia lebih dari 700.000 tahun silam- yang berada di wilayah Desa Sukajaya tidak terurus dan tidak jadi potensi kekayaan kebudayaan. Jangankan yang belum terangkat dan tidak begitu dikenal, yang sudah di kenal saja, Situs Rancah, Situs Tambak Sari, Kabuyutan Rajadesa, Nagara Pageuh, belum bisa dijadikan kekayaan kebudayaan yang bisa menggebalikan kejayaan Ciamis seperti di masa lalu ketika masih mejadi pusat kerajaan Galuh.

Kekayaan alam dan kebudayaan Jamuresi hilang begitu saja, dilipat waktu demi menjawab tantangan zaman akibat dari kelalaian pemerintah yang tidak peka. Akhirnya, ini pula yang menjawab pertanyaan saya sendiri, kenapa Desa Sukajaya masuk dalam barisan IDT? Bukan karena tertinggalnya saja, tetapi mungkin memang harus lebih diutamakan. Dalam hal ini, bagi saya, Suharto punya pandangan yang lain menerima Sukajaya sebagai Inpentaris Presiden. Karena memiliki kekayaan kebudayaan yang khusus dan bernilai historis yang tinggi.

Sekarang, mampukah kita menjawab sang waktu? Terus menggali potensi untuk kebaikan Jamuresi? Sementara sebagian anak-anak, remaja yang ada di Jamuresi kini memilki cara hidup seperti remaja di Kota-kota besar dan Kota-Kota urban?



2016

Bukan Puisi



Pendidikan kita tidak menjanjikan manusia menjadi pribadi,
tetapi mempersiapkan manusia menjadi mesin industri 
dan skrup kapitalisme.


Sekolah tidak mengajarkan filsafat agar bisa berbifir, tidak juga diajarkan berpolitik 
agar bisa memahami demokrasi dan perbedaan,
Sekolah hanya mengajarkan hapalan 
bagaimana menjadi abdi industri, dan juga mengajarkan persaingan 
yang akhirnya melahirkan kesenjangan.

Banyak sudah yang tidak percaya pada sekolah dan lembaga pendidikan
Selain karena semakin tinggi biaya yang harus dikeluarkan, 
juga karena sistem yang hanya mendorong manusia menjadi bagian dan budak industri.

Lalu munculah alternatif, sekolah-sekolah yang menawarkan cara baru dalam belajar, 
model baru dalam tata keuangan dan pembiayaan, 
ada yang menawarkan biaya murah dengan alasan memberikan kesempatan 
namun tidak membiarkan orang-orang yang tubuhnya ditato, memakai cadar, berambut gimbal, ikut belajar. 

Ada pula yang menawarkan cara belajar baru
tetapi bukan cara baru 
memandang persoalan hidup. 

Begitukah pendidikan? 
Bigitukan cita-cita pendidikan? 
Semua bergantung kita berdiri di pihak mana.

Langit muram, 
masa depan suram,
Aku memandang jalan lengang, 
sejuta kemungkinan bergelimang 
berjuta-juta ketakutan berloncatan

Kenyataan kewajaran hidup bertabrakan dengan cita-cita
Kesetian pada cita-cita terhimpit kenyataan, 
rasa lapar dan berahi adalah kenyataan yang tak bisa di bantah.

Cita-cita ditawar dengan kewajaran serta kekonyolan etika dan moralitas.
Bukankah menjadi tidak bermoral, 
cita-cita ditukar dengan sepiring nasi atas nama kewajaran?
Bukankah tidak bermoral, 
kesetiaan pada cita-cita ditukar dengan penyerahan diri atas nama etika dan kewajaran?

Jamur di kepala semakin banyak, 
kejernihan berfikir tak lagi dapat diukur, 
sebab perasaan dan rasa lapar semakin menggila.
Atas nama lapar, dan kewajaran, aku gadaikan cita-cita

Atas nama etika dan moral, aku gadaikan iman
Atas nama iman, aku siksa para ibu, aku bunuh para bapak,
dan anak-anaknya aku jerumuskan pada industri dan kapitalisme,
juga
atas nama kewajaran.




2018-2019

Sunday, April 21, 2019

Belajar


Ya, oke. Foto pemanisnya itu saja, secangkir kopi yang sudah hampir habis. Ketika tulisan ini dibuat, saya sedang kebingungan, karena adsesnse dari blog ini menghilang, dan saya menjadi bingung.

Maka, jalan lainnya adalah tunggu saja....sekian...


#cacatnyaharianzaky

Sunday, February 10, 2019

Angin Kamajaya Cuap Cuap Test Audio

Ini adalah semacam tes audio yang dilakukan oleh chanel Youtube saya yang lainnya...Angin Kamajaya. Postingan ini juga sebenarnya hanya menjaga agar tetap ada postingan saja, dari pada kosong sama sekali.

Saturday, January 5, 2019

MERAYAKAN KETAKPRODUKTIFAN

Angin Kamajaya, pemalas yang banyak cacatan
sebelum membaca cacatan saya ini, ada baiknya kamu siapkan kopi dan rokok dulu agar tidak mual. Jika terjadi mual dan ingin muntah, silahkan muntah dan tinggalkan tulisan ini.





MERAYAKAN KETAKPRODUKTIFAN dalam segala hal khususnya menulis, merupakan sebuah kebanggaan tersediri. Bayangkan, hampir setiap orang, "merayakan" sesuatu artinya adalah energi positif. Namun tidak dengan saya, Saya, saat ini sedang merayakan ketakproduktifan, khususnya dalam menulis. Tulisan ini adalah adalah merayakan setahun tak menulis dalam blog, setahun tak update, setahun tak memperbaharui. DAN saya bangga dengan hal ini.


Pada bidang yang lain juga sama saja. Channel Youtube saya misalnya, juga tidak saya perbaharui. Tidak ada video yang baru. Mantap! mungkin itu kata yang tepat untuk saya. Sepanjang 2018, saya tidak produktif dan tidak kreativ. Sampeu! 


Baiklah, sebagai perayaan ketakproduktifan ini, saya akan memulainya dengan memetakan beberapa hal yang mungkin perlu dilakukan untuk menjalani tahun 2019. Pertama, mungkin saya perlu memasuki arus-arus yang sedang dan akan menjadi trend mainstream di 2019. Politik??? hadeuuuhhh...ampun pemerintah! Kedua, mungkin hanya perlu memberikan warna pada apa yang menjadi mainstream? ya misalnya dengan dengan menciptakan dagelan politik seperti pasangan NURHADI - ADOL...hahahaha. Ketiga,  mungkin harus memasuki dunia hobi, dunia suka-suka, dunia kesukaan, dunia rekaan, khayalan, impian, atau tentang suatu yang tidak mungkin dilakukan orang lain tetapi saya lakukan! mencoba mati misalnya...he??? atau mencoba mencari surga, mencari neraka, mencari Tuhan??? hmm... Keempat, mungkin hanya perlu menjadi diri saya sendiri saja. Artinya tidak produktif, malas dan tidak kreativ. hahahahaha... kemudian membuat tulisan seperti ini lagi tahun 2020 nanti.

berikut adalah hal-hal yang mungkin perlu dilakukan  untuk masuk dalam trend mainstream 2019 dalam bentuk target bulanan sepanjang 2019...

1. Januari, memupuk semangat, membaca kemungkinan trend mainstream 2019.

2. Februari, merayakan ulang tahun sambil mencoba melakukan hal-hal yang tidak dilakukan orang lain.

3. Maret, ikut dalam perhelatan politik 2019. Menjadi partisan kampaye, baik hitam, putih, bersih dan kotor.

4. April, merayakan tahun politik Indonesia dengan melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan orang lain. Lompat dari monas, potong kuping, potong alat kelamin, belah dada...hahahahaha

5. Mei, berjualan persiapan bulan puasa, posting kegiatan selama puasa, sahur, buka, makanan, taraweh, jajanan, amalan dan seguadang yang lainnya.

6. Juni, ikut arus sahur on the road, buka puasa bersama, lebaran, salaman, makanan

7. Juli, merayakan lebaran yang berlebihan sambil menunggu lebaran haji

8. Agustus, merayan Agustusan agar disebut nasionalis dengan mengibarkan bendera merah putih di gunung, di dasar laut, sambil terjun payung, berenang, bendera terbesar supaya masuk dalam catatan MURI atau Guinness World Record

9. September, merayakan keceriaan seperti yang dilakukan Vina Panduwinata dalam lagunya September Ceria

10. Oktober, merayakan aktifitas seperti halnya orang Idonesia merayakan bulan bahasa, merayakan sumpah pemuda, membuat resolusi kebangkitan pemuda

11. November, merayakan bulan hujan, menulisa atau bercerita tengtang hujan, nikmatnya hujan, hujan membawa berkah, membawa malapetaka, jakarta siap-siap banjir, sambil mendengarkan Novembe Rain yang dinyakan oleh Alx Rose bersama grup bandnya yang dulu- GNR. atau ikutan merayakan hari para seniman Indonesia yang dikukuhkan dalam Hari Kebudayaan Nasional dengan tanggal utama 7 November sembari merayakan ulang tahun Rendra.

12. Desember, memasuki Desember Kelabu dalam lagunya Vina, atau memasuki My Desember-nya Linkin Park yang sudah kehilangan Chester Bennington, saya merayakan akhir tahun dengan melakukan evaluasi untuk 11 bulan sebelumnya, ikut perhelatan Hari Puisi Indonesia, atau sekedar merancang menyambut tahun baru 2020 dengan menuliskan berbagai macam target.

Itu semua, saya lakukan jika saya memasuki dan memilih tiga racangan kegitan 2019 di atas. Namun, jika saya memilih yang keempat, menjadi diri sendir, artinya semua itu tidak ada. Sebab saya pemalas dan tidak produktif, yang kemudian saya rayakan lagi bulan Januari 2020 sebagai perayaan ketakproduktifan 2019, dan begitu seterusnya.

Terakhir, semoga hal cacatan semacam ini tidak terjadi pada anda, padamu, pada kalian. Jangan ikuti hal-hal yang tidak produktif dan tidak kreativ. Namun, untuk menjadi produktif dan kreativ, belajarlah pada pemalas, sebab biasannya ia memiliki banyak ide, gagasan, khayalan dan mimpi, namun dia malas mengerjakannya!!! hahaha...

SELAMAT TAHUN BARU 2019.

jangan lupa ngopi supaya tetap waras