Tuesday, April 30, 2019

MENJAUH


M E N J A U H

Apa yang ada dalam kepalamu ketika kenyataan dan cita-cita semakin menjauh dan berjauhan?
juga Apa yang kamu lakukan mendapati diri terkurung dalam kenyataan tetapi tak berdaya menjawab persoalan?

Catatan ini adalah saksi atas cacatan diri yang semakin hari semakin menampakkan kemenangannya. Sementara aku, hanya berjuang untuk menunda kekalahan saja sudah tak mampu.

Hari Kemarin, Senin, hari ini Selasa 30 april 2019, pukul 01.46 waktu laptop, aku mendapati diriku dalam keadaan tidak nyaman. Tidak nyaman atas peristiwa yang menurutku juga tak berdampak apa-apa pada hidupku secara langsung. Tapi aku tahu, kejadian dan pertistiwa hari Senin kemarin, selain merayakan Hari Puisi, juga penutupan haul Danarto di UIN Jakarta, akan berdampak bagiku dikemudian hari hari. Lengkap sudah, rangkaian acara selama satu minggu di UIN jakarta tak satupun yang aku hadiri, padahal jelas, setengah dari hidupku berkecipung dan bersinggungan dengan dunia semacam itu, puisi, sastra, apresiasi sastra, kesenian...dan hari ini, menjadi bukti, jiwaku semakin menjauh dari itu semua, sementara badanku tertinggal. eh, terbalik ya....tak. Malah lebih dekatnya, keduanya.

Sungguh, ini semacam kemalangan yang hadir menimpa berkali-kali. Terseret dalam kewajaran hidup, namun terlepas dari cita-cita dan tercabut dari akar adalah menyakitkan. Betapa tidak, sementara ragaku "seolah-olah" berperan menopang cita-cita, namun tanpa daya dan upaya aktualisasi diri. Aku terkurung imajinasi dan malah asik sendiri, sementara kenyataan tak pernah aku tengok dan aku rawat.

Catatan ini, menjadi saksi atas cacatan diri yang semakin hari semakin menang. Sementara aku, menunda kekalahan saja tak mampu.

Di kemudian hari, sementara nanti kita berada di masa depan yang entah, tulisan ini akan mejadi jawaban, apakah aku kembali pada cita-cita saat ini, atau cita-cita sudah aku ganti dengan yang lain. Tidak tahu.

Selamat menikmati kekalahan melawan waktu dan kewajaran.


JAMURESI #3


JAMURESI #3
Mencari Identitas



Hakikatnya, setiap tempat memiliki kebudayaan tersendiri. Setiap masyarakat pasti memiliki tatanan hidup bermasyarakat sesuai dengan kebiasaan dan kondisi masing-masing. Begitu juga dengan Jamuresi dan sekitarnya yang memiliki tradisi tersendiri dan menyesuaikan dengan zamannya. Menurut sebagian para pakar sosiologi dan antropologi, kebudayaan sebuah masyarkat yang paling benar adalah yang mampu menyesuaikan dengan kebutuhan zamannya. Namun juga tidak kehilangan akar kebudayaan yang masih baik dan memiliki nilai kebaikan untuk kemanusiaan.

Jamuresi, yang dapat saya ingat, dua lima tahun yang lalu – sekitar tahun 1991an- masih tercatat sebagai tempat tertinggal atau desa tertinggal -Desa Sukajaya sampai sekarang masih sebagai desa IDT-. Namun, masyarakatnya mampu menjawab tantangan zamannya dengan kemampuannya masing-masing. Misalnya, untuk kebutuhan listrik, warga jamuresi memiliki sumber listrik sendiri yang dihasilkan dari turbin atau pembangkit listrik tenaga air dari sungai Cijolang. Tapi sangat disayangkan, pada tahun 1996, listrik mandiri milik warga Jamuresi diganti oleh listrik PLN milik pemerintah dan tidak difungsikan lagi. Di satu sisi, penggantian ini membawa kebaikan, namun di sisi yang lain, pemerintah merampas kreatifitas masyarakatnya yang mandiri.

Peristiwa pergantian listrik mandiri ke listrik pemerintah, akhirnya mendorong kebutuhan masyarakat Jamuresi dipaksa sama dengan kebutuhan masyarakat di kota yang memiliki pendapatan ekonomi berlipat-lipat dari masyarakat Jamuresi. Jamuresi dipaksa zaman untuk punya televisi, mengkonsumsi makanan instant produk periklanan yang di dapat dari televisi. Situasi ini akhirnya mendorong sisi kebutuhan yang dipaksa meningkat. Sebelumnya, panen padi satu kali satu tahun masih bisa menutupi kebutuhan sehari-hari warga Jamuresi. Sebab kebutuhan rempah-rempah masih bisa dilakukan dengan cara barter antar tetangga. Namun, setelah kebutuhan meningkat akibat harus bayar listrik negara, gaya hidup televisi, membuat masyarakat meningkatkan pendapatan dengan cara mengeksploitasi sumberdaya alam Jamuresi tetapi tidak dibekali dengan pengetahuan dan tehnik yang mumpuni. Sebagian masyarakat akhirnya menerima dengan paksa program-program percepatan pertanian dan lainnya demi memenuhi kebutuhan hidup namun tidak diberikan pandangan dampak yang akan terjadi dua puluh tahun yang akan datang -sekarang.

Demi memenuhi kebutuhan tersebut, masyarakat Jamuresi khususnya, umumnya Desa Sukajaya, meningkatkan percepatan pertanian dengan menggunakan zat-zat kimia yang dapat merusak tanah. Misalnya, dulu panen satu tahun sekali, bisa dipercepat menjadi tiga kali panen dalam setahun. Pengunaan bibit dan pupuk mempercepat dan memaksa tanah untuk memberikan kebaikan dengan instan namun lupa akan dampak kedepannya. Sekarang, sebagian sawah menjadi kering dan tak bisa ditanami padi bahkan dengan cara huma. Begitu pula yang memilki area pertanian di dataran yang lebih tinggi, banyak yang menjual pohon besar dan kemudia ditukar dengan tanaman sejenis kopi. Alhasil, ketika musim hujan turun, air hujan hanya sebatas lewat begitu saja dan tidak memberikan kebaikan yang banyak sebab tak ada lagi tanaman yang bisa menahan resapan hujan serta tanah sudah tak mampu lagi menampung air. 

Saya masih ingat, selokan kecil di depan rumah, dua puluh lima tahun yang lalu airnya banyak, dan selalu hidup. Saya bersama teman-teman bahkan sering membuat semacam bendungan dan membuat miniatur PLTA seperti yang di lakukan orang tua kami di sungai Cijolang. Tapi kini, semua tinggal kenangan dalam ingatan. Selokan kecil hanya parit kering penuh rumput dan berair ketika hujan saja.

Selain kreatifitas yang bernilai baik banyak yang terampas, hubungan sosial antar warga pun banyak terampas oleh kehadiran listrik PLN kala itu. Saat ini, kehidupan Jamuresi tak ubah seperti tatanan sosial masyarakat di perkotaan atau di pinggiran kota yang berlistrik. Semua orang, kita malam tiba, nyaris tak ada lagi yang berada di luar rumah, bukan karena takut gelap -dahulu lebih gelap- tapi karena semua orang kini sibuk dan terbius oleh acara televisi, terhanyut dalam acara televisi yang tidak banyak memberikan manfaat bagi warga Jamuresi secara langsung. Tak lagi seperti dulu, ketika menjelang magrib tiba, semua orang berbondong-bondong menuju masjid, mengajak anak-anaknya pergi ke masjid. Setelah magrib, anak-anak mengaji, para orang tua menunggu isya di beranda masjid sambil berbagi peristiwa dari sawah dan ladang masing-masing. Berbagi kisah dan pengalaman bagaimana menangani hama dan meningkatkan pendapatan. Terkadang, ketika purnama tiba, hampir semua warga di luar rumah menikmati purnama sebagai salah satu rasa syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan melalui alam raya. Lebih jauh dari itu semua, saya bersyukur masih sempat menikmati upacara sukuran alam sebelum panen dan setelah panen. Simbol syukur dan ucapan terimakasih kepada alam raya selain kepada Allah SWT atas berkah alam yang didapat.

Sayangnya, perubahan kebudayaan ini tidak disiapkan dengan matang oleh pemerintah kala itu. Masyarakat Jamuresi, dalam padangan saya, kala itu belum siap untuk menerima dampak kemajuan setelah listrik bekekuatan tinggi masuk Jamuresi. Sebab ketika listrik masuk Jamuresi tahun 1996, sebagian besar pendidikan warga Jamuresi adalah lulusan SD dengan pengetahuan sebatas bagaimana menanam dan bagaimana panen saja. Masyarakat tidak disiapkan secara mental untuk menanggapi kemajuan dan segala kemuningkan atas kemajuan yang bisa dicapai dengan adannya listrik yang lebih besar. Masyarakat tidak dibekali dengan keterampilan dan pengetahuan akan dampak positif dan negatifnya dari adanya listrik yang lebih besar tenaganya. Ada pun kebudayaan masyarakat men-tabukan menebang pohon besar dan mengkeramatkan hutan larangan dihajar habis-habisan dengan pendekatan ‘agama’ tapi dengan cara yang salah. Masyarakat hanya diberitahu bahwa ‘menuhankan’ pohon besar, hutan adalah perbuatan ‘syirik’ dalam Islam, tetapi tidak diberikan keterangan yang lainnya yang bermaanfaat agar tetap melestarikan hutan sebagai habitat penjaga siklus kehidupan Jamuresi yang notabene berada di lereng pegunungan.

Berubahnya tatanan sosial dan kebudayaan Jamuresi telah menjadikan Jamuresi tidak jauh beda dengan tempat yang lain yang ada di pinggiran kota dan kota. Padahal, banyak potensi yang bisa lebih besar dari yang sekarang sedang berlangsung. Selain dari sisi pertanian dan peternakan, Jamuresi punya nilai historis yang cukup mumpuni sebagai kekayaan kebudayaan bagi Ciamis khususnya. Sayangnya, pemerintah Ciamis saat itu tidak peka. Terbukti dengan terbengkalainya situs multizaman ‘batu tulis citapen’ -menurut hasil penelitian, situs Citapen berusia lebih dari 700.000 tahun silam- yang berada di wilayah Desa Sukajaya tidak terurus dan tidak jadi potensi kekayaan kebudayaan. Jangankan yang belum terangkat dan tidak begitu dikenal, yang sudah di kenal saja, Situs Rancah, Situs Tambak Sari, Kabuyutan Rajadesa, Nagara Pageuh, belum bisa dijadikan kekayaan kebudayaan yang bisa menggebalikan kejayaan Ciamis seperti di masa lalu ketika masih mejadi pusat kerajaan Galuh.

Kekayaan alam dan kebudayaan Jamuresi hilang begitu saja, dilipat waktu demi menjawab tantangan zaman akibat dari kelalaian pemerintah yang tidak peka. Akhirnya, ini pula yang menjawab pertanyaan saya sendiri, kenapa Desa Sukajaya masuk dalam barisan IDT? Bukan karena tertinggalnya saja, tetapi mungkin memang harus lebih diutamakan. Dalam hal ini, bagi saya, Suharto punya pandangan yang lain menerima Sukajaya sebagai Inpentaris Presiden. Karena memiliki kekayaan kebudayaan yang khusus dan bernilai historis yang tinggi.

Sekarang, mampukah kita menjawab sang waktu? Terus menggali potensi untuk kebaikan Jamuresi? Sementara sebagian anak-anak, remaja yang ada di Jamuresi kini memilki cara hidup seperti remaja di Kota-kota besar dan Kota-Kota urban?



2016

Bukan Puisi



Pendidikan kita tidak menjanjikan manusia menjadi pribadi,
tetapi mempersiapkan manusia menjadi mesin industri 
dan skrup kapitalisme.


Sekolah tidak mengajarkan filsafat agar bisa berbifir, tidak juga diajarkan berpolitik 
agar bisa memahami demokrasi dan perbedaan,
Sekolah hanya mengajarkan hapalan 
bagaimana menjadi abdi industri, dan juga mengajarkan persaingan 
yang akhirnya melahirkan kesenjangan.

Banyak sudah yang tidak percaya pada sekolah dan lembaga pendidikan
Selain karena semakin tinggi biaya yang harus dikeluarkan, 
juga karena sistem yang hanya mendorong manusia menjadi bagian dan budak industri.

Lalu munculah alternatif, sekolah-sekolah yang menawarkan cara baru dalam belajar, 
model baru dalam tata keuangan dan pembiayaan, 
ada yang menawarkan biaya murah dengan alasan memberikan kesempatan 
namun tidak membiarkan orang-orang yang tubuhnya ditato, memakai cadar, berambut gimbal, ikut belajar. 

Ada pula yang menawarkan cara belajar baru
tetapi bukan cara baru 
memandang persoalan hidup. 

Begitukah pendidikan? 
Bigitukan cita-cita pendidikan? 
Semua bergantung kita berdiri di pihak mana.

Langit muram, 
masa depan suram,
Aku memandang jalan lengang, 
sejuta kemungkinan bergelimang 
berjuta-juta ketakutan berloncatan

Kenyataan kewajaran hidup bertabrakan dengan cita-cita
Kesetian pada cita-cita terhimpit kenyataan, 
rasa lapar dan berahi adalah kenyataan yang tak bisa di bantah.

Cita-cita ditawar dengan kewajaran serta kekonyolan etika dan moralitas.
Bukankah menjadi tidak bermoral, 
cita-cita ditukar dengan sepiring nasi atas nama kewajaran?
Bukankah tidak bermoral, 
kesetiaan pada cita-cita ditukar dengan penyerahan diri atas nama etika dan kewajaran?

Jamur di kepala semakin banyak, 
kejernihan berfikir tak lagi dapat diukur, 
sebab perasaan dan rasa lapar semakin menggila.
Atas nama lapar, dan kewajaran, aku gadaikan cita-cita

Atas nama etika dan moral, aku gadaikan iman
Atas nama iman, aku siksa para ibu, aku bunuh para bapak,
dan anak-anaknya aku jerumuskan pada industri dan kapitalisme,
juga
atas nama kewajaran.




2018-2019

Sunday, April 21, 2019

Belajar


Ya, oke. Foto pemanisnya itu saja, secangkir kopi yang sudah hampir habis. Ketika tulisan ini dibuat, saya sedang kebingungan, karena adsesnse dari blog ini menghilang, dan saya menjadi bingung.

Maka, jalan lainnya adalah tunggu saja....sekian...


#cacatnyaharianzaky