Tuesday, May 24, 2016

KOPI PAGI DAN SAKIT GIGI



Kenapa manusia Indonesia, dunia pada umumnya, tanpa disadari diseret paksa namun halus untuk bisa berbahasa Inggris? Padahal, tentu saja, setiap manusia Indonesia bukan dan tidak semua keturunan Inggris atau Eropa atau Amerika. Tapi kenapa harus bisa berbahasa Inggris? Bukan bahasa India, atau Cheko, atau Findlandia, atau Arab misalnya? Apakah kesadaran manusia, saya atau anda sedang tinggi? Sehingga merasa perlu dan harus bisa berbahasa Inggris guna bisa bertukar pendapat dengan manusia di luar Indonesia? Ataukah memang kesadaran kita sudah rusak sehingga tanpa kita sadari bahwa yang kita anggap berkembang dan maju adalah salah satu bentuk kekalahan kebudayaan?

Secara tidak langsung, seluruh umat manusia di dunia ini, diseret untuk menggunakan bahasa Inggris dan mendorongnya menjadi bahasa persatuan dunia. Diketahui atau tidak, sudah ada beberapa negara yang menjadikan bahasa inggris sebagai bahasa nasional kedua di negaranya. Sebenarnya, untuk ukuran berkembang baik-baik saja. Sebab sesuatu yang berkembang harus mampu masuk dan menerima segala kondisi perubahan dan tuntutan zamannya masing-masing. Tapi sungguh disayangkan jika Bahasa Indonesia yang jelas-jelas bahasa nasional yang lentur dan mampu dengan cepat menyerap bahasa dari luar lema rumpun bahasa Nusantara, menjadi bahasa kelas dua di tanahnya sendiri.

Sebagai contoh, yang paling sederhana, di beberapa perusahaan atau lembaga nasional, atau lembaga pemerintah menyaratkan kepada pegawai dan calon pegawainya untuk bisa berbahasa Inggris, bahkan beberapa meminta bukti surat keterangan kemahiran berbahasa Inggris sebagai pengguna asing setara dengan penutur asli. Sementara untuk bahasa negara sendiri (Bahasa Nasional: Bahasa Indonesia) tidak diminta syarat apapun atau minimal ada permintaan nilai minimum bahasa Indonesia. Padahal tidak semua warga negara Indonesia dari Sabang sampai Merauke sudah berbahasa Indonesia dengan baik dan benar sesuai dengan dasaran atau acuan baku nasional. Di Jakarta misalnya, manusia Jakarta hampir sebagian besar merasa sudah berbahasa Indonesia, padahal tidak. Bahkan yang paling miris masih banyak warga negara Indonesia, wartawan, penulis, juga aparat pemerintah yang tidak bisa menggunakan kata bila dan jika dengan tepat. Ini sungguh disayangkan.

Saya pikir, anggapan negara terhadap warganya terlalu baik. Negara, khususnya lembaga bahasa memiliki anggapan bahwa manusia Indonesia sudah berbahasa Indonesia dengan benar. Seharusnya Negara, atau pemerintah, atau kementrian pendidikan, atau lembaga bahasa membuat kebijakan atau peraturan, bahwa setiap warga negara Indonesia harus sanggup dan bisa berbahasa Indonesia setara dengan nilai 8 dalam skala 10.

Memang, sudah ada usaha dari pemerintah, yakni menyelenggarakan Uji Kemahiran Bahasa Indonesia atau UKBI, namun usaha ini masih terbilang lemah. Selain pemberitahuan yang tidak merata, juga tidak ada perintah yang serentak. Seharusnya, negera memerintahkan, kepada setiap Instansi, lembaga atau perusahaan yang berada di Indonesia mewajibkan calon pegawainya memiliki surat keterangan kelayakan atau kemahiran berbahasa Indonesia. Bukan sebaliknya, setiap perusahaan bahkan lembaga pemerintah sendiri malah meminta surat keterangan berbahasa Inggris setara penutur asli!

Sebenarnya, yang waras siapa, yang memakai alat paling canggih tetapi tidak berbaju, atau yang berusaha berbaju dengan benar sambil mengikuti alat paling mutakhir?

*renungan rusuh sambil menikmati kopi dan sakit gigi….selamat pagi…jangan lupa ngopi supaya tetap waras… :-P


  

Tuesday, September 8, 2015

KESAKSIAN 70 TAHUN INDONESIA MERDEKA







sesampahan di kepala...monggo....




KESAKSIAN 70 TAHUN INDONESIA MERDEKA


1
Aku bersaksi,
tujuh puluh tahun sudah
negara Indonesia menjadi negara yang merdeka
tetapi rakyat Indonesia belum merdeka!

Aku bersaksi,
adalah kenyataan, bahwa rakyat Indonesia sejak zaman kolonial
rezim orla, rezim orba, dinasti reformasi, bahkan dinasti revolusi mental
rakyat Indonesia tidak pernah menjadi warga negara dengan hak yang penuh
berpartisipasi dalam urusan kemasyarakatan, urusan negara dan urusan pemerintah

2
Tengoklah kembali,
di zaman orla, rakyat hanya menjadi massa revolusi dan massa partai
sementara kelaparan dan kematian mengintai
di zaman orba, dinasti mataram berwajah baru
rakyat hanya menjadi massa pembangunan yang daya kreatifnya dibelenggu
penataran-penataran penyeragaman pikiran digalakan
dan kejahatan pemerintah oleh tentara diberikan dukungan
tentara melindungi kejahan pemerintah yang oleh rakyat tak bisa terbantahkan

Tengoklah kembali,
gerakan reformasi diadakan
rakyat dimanipulir membentuk barisan pemberontakan
seolah akan ada gerakan perubahan
kenyataanya,
reformasi hanya memberangus pemerintahan orba
rakyat tetap tidak merdeka
pemerintah hanya getol memperjuangkan posisi kedaulatan golongan mereka sendiri
bukan kedaulatan rakyat negri ini
mereka gede rasa
disangkanya suara mereka adalah suara rakyat
padahal hanya suara partai politik saja
mereka tak ubanya zaman mataram, kolonial, orla, dan orba
wajahnya saja yang baru
rakyat tetap tak merdeka dan terbelenggu

3
Kini,
reformasi berwajah revolusi
kemerdekaan tetap menjadi ilusi
rakyat tetap tanpa hak azasi
pemerinta hanya rajin mengumbar janji tanpa bukti
wajah-wajah baru yang arogan bermunculan
beradu kekuatan dan kecerdasan
sedang rakyat hanya menjadi bantalan dan sasaran

aku bersaksi,
Masih ada para pekerja yang tidak mendapatkan haknya sendiri
seperti sapi perah yang dilupakan majikannya sendiri
banyak orang yang menjadi gelandangan di negrinya sendiri
terlunta-lunta tanpa hak azasi
aparatur negara tidak membela rakyat
mereka tetap menjadi alat pemerintah untuk menindas rakyat
seperti di zaman kolonial, di zaman orla, di zaman orba,
di zaman reformasi, di zaman revolusi mental sama saja

Politikus asik memperkaya diri dan memperkuat kedudukan sendiri
Budayawan asik dengan proyek kebudayaan
sibuk memberi angka dan nilai pada perlombaan kebudayaan
Para penyair sibuk memperjual belikan metafora
berlomba dengan kata menuju langit tertinggi
sampai lupa menginjak bumi
Dan seniman, tetap menjadi buruh pusat kesenian sambil mabuk di emperan
Di sekolah para guru sibuk menata kurikulum dan memperjualbelikan buku pelajaran
Siswa dijelali hafalan dan menjadi terlunta tanpa keterampilan menyambut masa depan
Di rumah ibadah agawaman sibuk membela tuhan
Sambil membakar, membunuh dan menyiksa yang berbeda keyakinan

4
Aku bersaksi,
apalah artinya kemerdekaan tanpa kedaulatan
rakyat tanpa hak azasi dan pembinaan kesadaran
pemusatan kekuasaan pemerintah semakin berlebih-lebihan
sehingga daya hidup masyarakat terlumpuhkan

Rakyat yang tidak berdaya adalah rakyat yang kehilangan kemanusiaannya
kekuasaan pemerintah yang absolut menjadi berhala
mengobrak-abrik tatanan nilai moral dan peradaban
akhirnya terjadi proses erosi kemanusiaan
di dalam kehidupan berbangsa

5
Aku bersaksi,
dengan malu-malu dan ragu
sekelompok orang bertanya tentang nasionalisme dan rasa berbangsa
rasa berbangsa kita telah dirusak oleh cara bernegara yang salah
dan nasionalisme sudah lama menjadi sampah

bunga-bunga berguguran di pekarangan
mata nanar melihat kematian dan penindasan
pikiran dipenuhi jaring laba-laba kekuasaan

apalah artinya kekuasan
apalah artinya kekayaan
jika tak bisa menyelesaikan persoalan kemiskinan
dan hanya memperbanyak gelandangan dan pelacuran!!!
                                                                                              


(Lenteng Agung, Agustus 2015 )

Sunday, August 16, 2015

Secangkir Kopi, Aku dan Kamu


1
Memburu kamu di secangkir kopi
Ada buih rindu
Ada ketir yang diciptakan oleh jarak
Tak apa, sebab manisnya rindu lebih dahsyat daripada manisnya mulut politisi
Mereka sering membicarakan hal yang muluk
Tetapi lupa akan kewajaran yang semestinya terjaga
Ada pula yang sering menciptakan mimpi
Tetapi mereka lupa bangun untuk kemudian mewujudkannya
Para politisi itu seperti buah bintaro
Isi buahnya pahit tidak ketulungan

Langit sepi
Kucari kamu di secangkir kopi



2
Kucari kamu di secangkir kopi
Di tumpukan buku, di lembaran pesan elektronik, di bait-bait puisi, di secercah harapan yang kita ciptakan;
Kamu tak ada

Aku malah menemukan lembaran kerja yang tertunda, cita-cita yang kusam tergantung di jendela, foto politisi yang kepingin jadi artis, dan potret suram pendidikan bangsa kita
Ya...kutemui pendidikan bangsa ini menjadi lahan bisnis yang menjanjikan...
Sekolah hanya menjadi status
Tidak menjanjikan pengetahuan dan keterampilan
Buku ajar dipolitisir jadi penghasilan yang menguntungkan
Para guru sibuk memanipulasi nilai, angka kredit, dan perangkat sertifikasi
Sedang siswa terlantar kurang perhatian dan lari ketempat kursusan dan bimbingan
Kenapa lembaga kursus dan bimbingan belajar lebih menjanjikan dari sekolah?
Apakah karena harganya lebih mahal?
Apakah kerena kualitas belajar di sekolah tidak menjanjikan?
Kalau begitu, tutup saja sekolah, mari kita buka lembaga kursus dan bimbingan lebih banyak!
Agar kita kaya, dan yang memerlukan keterampilan tetap terjaga

Ah, kamu tak ada
Aku ingin mengatakan ini lebih banyak
Aku curiga, aku sedang terseret arus bawah
Menjadikan sekolah sebagai lembaga bisnis yang lumrah
Setelah bisnis kesehatan
Aku tulis ini ketika bulan sebelah menjadi gelisah
Dan kamu tak kutemui dalam secangkir kopi

3
Secangkir kopi pagi;
Aku berseru menyebut namamu
Wahai kau yang berkeliaran di dada
Ada tangis di balik senyum yang sumringah
Ada tiran yang pongah berkedok budi yang ramah
Dan kemanusiaan hilang kemerdekaanya
Di jaman cybernetik ini, feodalisme menjadi alasan perlawan pada sikap yang instan
Sikap tunduk dan taat aturan dijadikan perisai atas pembunuhan kemerdekaan
Dan pengabdian adalah alasan kebudayaan alam yang harus diterima tanpa diolah akal sehat
Di manakah kemerdekaan
Di manakah kemanusiaan
Ia telah lama mati di bangku sekolah
Ia tak berdaya di beranda lembaga pendidikan yang feodal dan militeristik
Selama kemanusiaan diartikan tunduk dan patuh pada kebudayaan alam dan meniadakan akal sehat
Kita tak akan bisa membela masa depan

Secangkir kopi pagi;
Kujumpai manis
Kutemui pahit
Berpadu
Seperti aroma senyummu

Secangkir kopi pagi;
Aku teringat kamu
Wahai kau yang berkeliaran di dada
Merdekalah!

4
Secangkir kopi
Semesta duka
Aku teringat Deandles, Rafles, Multatuli, Saijah, Adinda...

Secangkir kopi
Adalah tumpukan sejarah yang tak habis dibaca

5
Secangkir kopi
Lagi
Aku mengecap sepi
Aku mencium rindu
Pada Ibu
Pada kampung halaman
Pada daun, pohon, rumputan
Pada sekian kisah haru
Ada derita yang bersemayam
Aku seperti api dalam abu
Berteriak
Sementara mereka tutup telinga
Korupsi seperti mendarah
Mengalir begitu saja dalam tubuh
Seperti rumput liar
Tumbuh di mana saja
Bahkan subur di lembaga pendidikan

Malam suram
Bulan sesabit menggantung di langit
Secangkir kopi menjadi saksi
Ada suara yang dibisukan
Ada kesaksian yang dibutakan
Bila korupsi bagian dari kerjasama
Aku menolak untuk disamakan

Secangkir kopi
Lagi
Kuteguk segala pahit
Menembus batas tanpa cakrawala


Depok, 14 sept. – 1 okt. 2014