Tuesday, September 8, 2015

KESAKSIAN 70 TAHUN INDONESIA MERDEKA

sesampahan di kepala...monggo....

KESAKSIAN 70 TAHUN INDONESIA MERDEKA


1
Aku bersaksi,
tujuh puluh tahun sudah
negara Indonesia menjadi negara yang merdeka
tetapi rakyat Indonesia belum merdeka!

Aku bersaksi,
adalah kenyataan, bahwa rakyat Indonesia sejak zaman kolonial
rezim orla, rezim orba, dinasti reformasi, bahkan dinasti revolusi mental
rakyat Indonesia tidak pernah menjadi warga negara dengan hak yang penuh
berpartisipasi dalam urusan kemasyarakatan, urusan negara dan urusan pemerintah

2
Tengoklah kembali,
di zaman orla, rakyat hanya menjadi massa revolusi dan massa partai
sementara kelaparan dan kematian mengintai
di zaman orba, dinasti mataram berwajah baru
rakyat hanya menjadi massa pembangunan yang daya kreatifnya dibelenggu
penataran-penataran penyeragaman pikiran digalakan
dan kejahatan pemerintah oleh tentara diberikan dukungan
tentara melindungi kejahan pemerintah yang oleh rakyat tak bisa terbantahkan

Tengoklah kembali,
gerakan reformasi diadakan
rakyat dimanipulir membentuk barisan pemberontakan
seolah akan ada gerakan perubahan
kenyataanya,
reformasi hanya memberangus pemerintahan orba
rakyat tetap tidak merdeka
pemerintah hanya getol memperjuangkan posisi kedaulatan golongan mereka sendiri
bukan kedaulatan rakyat negri ini
mereka gede rasa
disangkanya suara mereka adalah suara rakyat
padahal hanya suara partai politik saja
mereka tak ubanya zaman mataram, kolonial, orla, dan orba
wajahnya saja yang baru
rakyat tetap tak merdeka dan terbelenggu

3
Kini,
reformasi berwajah revolusi
kemerdekaan tetap menjadi ilusi
rakyat tetap tanpa hak azasi
pemerinta hanya rajin mengumbar janji tanpa bukti
wajah-wajah baru yang arogan bermunculan
beradu kekuatan dan kecerdasan
sedang rakyat hanya menjadi bantalan dan sasaran

aku bersaksi,
Masih ada para pekerja yang tidak mendapatkan haknya sendiri
seperti sapi perah yang dilupakan majikannya sendiri
banyak orang yang menjadi gelandangan di negrinya sendiri
terlunta-lunta tanpa hak azasi
aparatur negara tidak membela rakyat
mereka tetap menjadi alat pemerintah untuk menindas rakyat
seperti di zaman kolonial, di zaman orla, di zaman orba,
di zaman reformasi, di zaman revolusi mental sama saja

Politikus asik memperkaya diri dan memperkuat kedudukan sendiri
Budayawan asik dengan proyek kebudayaan
sibuk memberi angka dan nilai pada perlombaan kebudayaan
Para penyair sibuk memperjual belikan metafora
berlomba dengan kata menuju langit tertinggi
sampai lupa menginjak bumi
Dan seniman, tetap menjadi buruh pusat kesenian sambil mabuk di emperan
Di sekolah para guru sibuk menata kurikulum dan memperjualbelikan buku pelajaran
Siswa dijelali hafalan dan menjadi terlunta tanpa keterampilan menyambut masa depan
Di rumah ibadah agawaman sibuk membela tuhan
Sambil membakar, membunuh dan menyiksa yang berbeda keyakinan

4
Aku bersaksi,
apalah artinya kemerdekaan tanpa kedaulatan
rakyat tanpa hak azasi dan pembinaan kesadaran
pemusatan kekuasaan pemerintah semakin berlebih-lebihan
sehingga daya hidup masyarakat terlumpuhkan

Rakyat yang tidak berdaya adalah rakyat yang kehilangan kemanusiaannya
kekuasaan pemerintah yang absolut menjadi berhala
mengobrak-abrik tatanan nilai moral dan peradaban
akhirnya terjadi proses erosi kemanusiaan
di dalam kehidupan berbangsa

5
Aku bersaksi,
dengan malu-malu dan ragu
sekelompok orang bertanya tentang nasionalisme dan rasa berbangsa
rasa berbangsa kita telah dirusak oleh cara bernegara yang salah
dan nasionalisme sudah lama menjadi sampah

bunga-bunga berguguran di pekarangan
mata nanar melihat kematian dan penindasan
pikiran dipenuhi jaring laba-laba kekuasaan

apalah artinya kekuasan
apalah artinya kekayaan
jika tak bisa menyelesaikan persoalan kemiskinan
dan hanya memperbanyak gelandangan dan pelacuran!!!
                                                                                              


(Lenteng Agung, Agustus 2015 )

Sunday, August 16, 2015

Secangkir Kopi, Aku dan Kamu


1

Memburu kamu di secangkir kopi

Ada buih rindu

Ada ketir yang diciptakan oleh jarak

Tak apa, sebab manisnya rindu lebih dahsyat daripada manisnya mulut politisi

Mereka sering membicarakan hal yang muluk

Tetapi lupa akan kewajaran yang semestinya terjaga

Ada pula yang sering menciptakan mimpi

Tetapi mereka lupa bangun untuk kemudian mewujudkannya

Para politisi itu seperti buah bintaro

Isi buahnya pahit tidak ketulungan

 

Langit sepi

Kucari kamu di secangkir kopi

 

2

Kucari kamu di secangkir kopi

Di tumpukan buku, di lembaran pesan elektronik, di bait-bait puisi, di secercah harapan yang kita ciptakan;

Kamu tak ada

 

Aku malah menemukan lembaran kerja yang tertunda, cita-cita yang kusam tergantung di jendela, foto politisi yang kepingin jadi artis, dan potret suram pendidikan bangsa kita

Ya...kutemui pendidikan bangsa ini menjadi lahan bisnis yang menjanjikan...

Sekolah hanya menjadi status

Tidak menjanjikan pengetahuan dan keterampilan

Buku ajar dipolitisir jadi penghasilan yang menguntungkan

Para guru sibuk memanipulasi nilai, angka kredit, dan perangkat sertifikasi

Sedang siswa terlantar kurang perhatian dan lari ketempat kursusan dan bimbingan

Kenapa lembaga kursus dan bimbingan belajar lebih menjanjikan dari sekolah?

Apakah karena harganya lebih mahal?

Apakah kerena kualitas belajar di sekolah tidak menjanjikan?

Kalau begitu, tutup saja sekolah, mari kita buka lembaga kursus dan bimbingan lebih banyak!

Agar kita kaya, dan yang memerlukan keterampilan tetap terjaga

 

Ah, kamu tak ada

Aku ingin mengatakan ini lebih banyak

Aku curiga, aku sedang terseret arus bawah

Menjadikan sekolah sebagai lembaga bisnis yang lumrah

Setelah bisnis kesehatan

Aku tulis ini ketika bulan sebelah menjadi gelisah

Dan kamu tak kutemui dalam secangkir kopi

 

3

Secangkir kopi pagi;

Aku berseru menyebut namamu

Wahai kau yang berkeliaran di dada

Ada tangis di balik senyum yang sumringah

Ada tiran yang pongah berkedok budi yang ramah

Dan kemanusiaan hilang kemerdekaanya

Di jaman cybernetik ini, feodalisme menjadi alasan perlawan pada sikap yang instan

Sikap tunduk dan taat aturan dijadikan perisai atas pembunuhan kemerdekaan

Dan pengabdian adalah alasan kebudayaan alam yang harus diterima tanpa diolah akal sehat

Di manakah kemerdekaan

Di manakah kemanusiaan

Ia telah lama mati di bangku sekolah

Ia tak berdaya di beranda lembaga pendidikan yang feodal dan militeristik

Selama kemanusiaan diartikan tunduk dan patuh pada kebudayaan alam dan meniadakan akal sehat

Kita tak akan bisa membela masa depan

 

Secangkir kopi pagi;

Kujumpai manis

Kutemui pahit

Berpadu

Seperti aroma senyummu

 

Secangkir kopi pagi;

Aku teringat kamu

Wahai kau yang berkeliaran di dada

Merdekalah!

 

4

Secangkir kopi

Semesta duka

Aku teringat Deandles, Rafles, Multatuli, Saijah, Adinda...

 

Secangkir kopi

Adalah tumpukan sejarah yang tak habis dibaca

 

5

Secangkir kopi

Lagi

Aku mengecap sepi

Aku mencium rindu

Pada Ibu

Pada kampung halaman

Pada daun, pohon, rumputan

Pada sekian kisah haru

Ada derita yang bersemayam

Aku seperti api dalam abu

Berteriak

Sementara mereka tutup telinga

Korupsi seperti mendarah

Mengalir begitu saja dalam tubuh

Seperti rumput liar

Tumbuh di mana saja

Bahkan subur di lembaga pendidikan

 

Malam suram

Bulan sesabit menggantung di langit

Secangkir kopi menjadi saksi

Ada suara yang dibisukan

Ada kesaksian yang dibutakan

Bila korupsi bagian dari kerjasama

Aku menolak untuk disamakan

 

Secangkir kopi

Lagi

Kuteguk segala pahit

Menembus batas tanpa cakrawala

 

 

Depok, 14 sept. – 1 okt. 2014